Selasa, 10 Januari 2012

Pengembangan Pribadi Konselor



PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR

A. KEBUTUHAN MORAL SPIRITUAL  VS  KEBUTUHAN MATERI
Suatu kenyataan bahwa kekayaan materi mengantar orang ke kedudukan social yang tinggi dan menyebabkan seseorang dihargai tinggi dan dihormati dimasyarakat. Mobil mewah, uang banyak, peralatan canggih, dan sebagainya, merupakan factor yang menentukan tempat terhormat bagi seseorang ditengah masyarakat, tidak perduli apakah mencapai melalui cara yang baik, yaitu halal dan terpuji atau tidak. Namun demikian nilai-nilai kemanusiaan adalah merupakan nilai-nilai luhur yang tepat menjadi nilai ideal bagi setiap orang untuk mendapat penilaian tinggi dimasyarakat, dan diyakini diterima disisi Tuhan dalam kehidupan kelak.
            Orang dapat menipu sebagai orang dan berlaku dalam waktu tertentu dan disebagaian tempat, tetapi orang tidak dapat menipu semua orang di semua tempat dan sepanjang waktu. Inilah, antara lain, mengapa kebutuhan moral spiritual dan keinginan untuk menyatu dengan Tuhan dan mendapatkan anugrah dari pada-Nya.
1. Identitas Religius dan Spiritual Konselor
 Landasan religious dalam bimbingan dan konseling mengimplikasikan bahwa konselor sebagai “helper” pemberian bantuan dituntut untuk memiliki pemahaman akan nilai-nilai agama, dan komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memberikan bimbingan dan konseling kepada kien.  Didalam proses bantuannya terkandung nilai  agama ( mengembangkan kebaikan dan mencegah keburykan ). Agar layanan bantuan yang diberikan itu bernilai ibadah, maka kegiatan tersebut harus didasarkan kepada keikhlasan dan kesabaran.  
Kaitan dengan hal tersebut, Prayitno dan Erman Amti, ( dalam Syamsu Yusuf, 2009:153 ), mengemukakan persyaratan bagi konselor, yaitu sebagai berikut:

1

A. Konselor hendaknya orang yang beragama dan mengamalkan dengan baik keimanannya sesuai dengan agama yang dianutnya.
B. Konselor sedapat-dapatnya mampu mantrasfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan masalah klien.
Pendekatan bimbungan dan konseling yang terintegrasi didalamnya dimensi agama ternyata sangat disenangi oleh masyarakat luas. Marsh Wiggins Frame 2003 ( dalam Syamsu Yusuf, LN, dkk, 2009 ) mengemukakan bahwa agama sepatutnya mendapat tempat dalam praktek konseling dan psikoterapi. Pemikiran ini didasarkan  beberapa alas an ( khasus di Amerika ) :
1.   Mayoritas orang Amerika meyakini Tuhan.
2.  Terdapat tumpang tindih dalam nilai dan tujuan antara konseling dengan agama.
3. Banyak bukti empirik yang menunjukkan bahwa keyakinan beragama telah berkontribusi secara positif terhadap kesehatan mental.
4.   Agama sudah sepatutnya diintegrasikan  ke dalam konseling dalam upaya mengubah pola pikir yang berkembang di akhir abad ke -20.
5.   Kebutuhan yang serius untuk mempertimbangkan konteks dan latar belakang budaya klein.
Konselor dituntut memiliki pemahaman tentang hakikat manusia menurut agama dan peran agama dalam kehidupan umat manusia.
1.   Hakikat Manusia Menurut Agama.
Sifat hakiki manusia adalah makhluknberagama ( homo religious ). Fitrah agama merupakan potensi yang arah perkembangannya amat tergantung pada kehidupan beragama dilingkungan dimana orang itu hidup.


2

2.   Peran Agama
Agama sebagai pedomban hidup bagi manusia telah memberikan petunjuk tentang  berbagai aspek kehidupan, termasuk pembinaan atau pengembangan mental (rohani ) yang sehat. Fungsi Agama : (a). memelihara Fitrah, (b). memelihara Jiwa, (c). memelihara Akal, (d). memelihara Keturunan.
Semakin dekat orang kepada Tuhan, semakin banyak ibadahnya, maka akan semakin tentramlah jiwanya. Demikian pula sebaliknya. Dampak ditinggalkannya . Disingkirkannya nilai-nilai agama dalam kehidupan modern, kita menyaksikan semakin meluasnya kepincangan sosial.
B.     PERILAKU MEMBANTU YANG DILANDASI NILAI KEAGAMAAN / KEROHANIANIAN.
1. Makna Pemberian Bantuan.
Pemberian bantuan merupakan istilah yang sukar untuk dijelaskan, karena mempunyai arti yang sangat individual, dalam arti makna sangat tergantung pada orang yang berkepentingan. Upaya yang berupa pemberian bantuan dapat ditfsirkan sebagai penghinaan atau sebagai perbuatan turut campur seseorang dengan urusan orang lain.
Prayitno dan Erman Amti, ( dalam Syamsu Yusuf, 2009:153 ), mengemukakan persyaratan bagi konselor, yaitu sebagai berikut:
a. Konselor hendaknya orang yang beragama .
b. Konselor sedapat-dapatnya mampu mantrasfer kaidah-kaidah agam.
2. Peranan Nilai Agama Dalam  Menghadapi Kehidupan  Global.
Agama merupakan uang mengikat jiwa untuk kembali kepada Tuhan adalah agama. Sejarah agama berumur setua dengan sejarah manusia. Seluruh agama merupakan perpaduan kepercayaan dan sejumlah upacara. Tuhan menciptakan alam atau “kita harus mati untuk membebaskan jiwa dari beban daging badan kasar”. Sedang yang lain lebih bersifat khusus yang pada umumnya berkenaan tentang bagaimana seharusnya kita mengatur  tingkah laku dibumi.
3
Dasar-dasar umum dengan istilah nilai (Value) sedangkan hal-hal yang lebih khusus sifatnya sebagai kepercayaan (Belief). Kepercayaan adalah penerapan konkrit nilai-nilai yang kita miliki. Tujuan terakhir agama bersifat tidak nyata. Keberhasilan didunia ini yang perlu diinterpretasikan sebagai suatu yang absolute. Mempertebal iman dan mental untuk menuju kepada pelaksanaan ajaran agama masing-masing guna terciptanya suatu kehidupan damai didunia dan diakhirat.
Konsep Nilai Agama Hindu dalam Menjaga Keseimbangan Kehidupan Modern.
1.   Konsepsi Dharma.
Konsep ini merujuk dimensi tunggal yaitu keseimbangan hidup yang berdasarkan falsafah”Mokshartam Jagadditaya C Iti Dharmah”.
2.   Konsepsi Rwa Bhenda.
Konsep ini menggambarkan keseimbangan hidup manusia dalam dimensi dualistis, yaitu keyakinan terhadap dua kekuatan yang dasyat seperti baik dan buruk.
3.   Konsepsi Tri Hita Karana.
Konsep tiga penyebab kebahagiaan hidup ini terdiri dari Parhyangan ( Tuhan), Pawongan (Manusia), dan Pelemahan (Wilayah).
4.   Konsepsi Karma Phala.
Konsep ini berlandaskan hokum sebab akibat digunakan sebagai pengendalian diri dalam berbagai segi kehidupan.
5.   Konsepsi Etos Kerja.
Konsep etos kerja menilai tinggi kerja keras dan pentingnya akhtisar bagi dinamika kehidupan . Dapat menjadi pangkal berbagai kemajuan, kreativitas dan inovasi.



4
6.   Konsepsi Desa Kala Patra.
Konsepsi ruang, waktu dan keadaan. Konsep ini memberikan landasan yang luwes dalam komunikasi . Kehidupan jaman Kali Yuga pada saat sekarang ini nilai-nilai spiritual semakin menipis. Banyak manusia yang tidak dapat menggunakan idep (akal budi) dengan baik. Seakan-akan manusia kehilangan kesadaran pada akhirnya akan mengakibatkan penderitaan. Jangan biarkan waktu ini berlalu tanpa manfaat, guna kesempatan. Sebab tak urung pada suatu waktu akan berakhirlah hidup ini. Inti hidup ini disebut juga Atman, sedangkan penciptanya disebut Parama Atman atau Brahman.
Agar dapat memberikan bantuan yang dilandasi nilai-nilai keagamaan, sangat perlu mengembangkan kemampuan atau kecerdasan diantaranya:
a.   Mengembangkan kecerdasan emosi (EQ) diharapkan orang mampu mengendalikan tata pikir yang lebih baik.
b.   Mengembangkan kecerdasan Spiritual (SQ), akan mampu menangkap makna kebenaran dari suatu kebatinan.
c.   Mengembangkan kecerdasan Religius (RQ) dapat memberikan kekuatan yang mampu berfikir.
d.   Mengembangkan kecerdasan Akal (IQ)  yang bersifat: rasional, logis, dan harus menurut hokum sebab akibat dan probabilitas serta predictive.
Bersifat Empati dan Atribusi Secara Cepat.
1. Konsep Empati dan Atribusi
Identifikasi kondisi pokok yang berkaitan dengan keefektian konseling
Beberapa kondisi pokok yang berkaitan dengan keefektifan konseling yaitu:
a. Pemahaman Empatik
Empatik merupakan kemamouan konselor (pembimbing) untuk menempatkan diri kedalam kerangka acuan klien, dalam mempersepsikan diri dalam dunianya (klien), tanpa halangan identiotas diri (pembimbing).
5
Pemahaman empatik harus pula dirasakan dan dialami oleh kliennya. Sehingga selalu menjadi pusat perhatian dalam berbagai literatur konseling dan psikoterapi. Pemahaman empati sebagai jantung yang paling esensial dalam proses konseling.        
Sedangkan Atribusi adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan individu tentang penyebab kejadian-kejadian dan perilaku-perilaku orang lain. Atribusi adalah mencerminkan cara-cara kita dalam memahami dunia sekeliling kita. Fundamental attribution error adalah kesesatan karena adanya kecendrungan untuk menjelaskan perilaku orang lain. Self-serving bias adalah kecenderungan untuk mengatribusikan kesuksesan diri sendiri pada factor-faktor internal  dan kegagalan pada faktor situasional. Devensive attribution adalah kecenderungan untuk menyalahkan Korban karena ketidak beruntungannya dari pada lingkunan sekitar.
b. Penerimaan dan Penghargaan terhadap Diri Klien
Pembimbing dituntut untuk menampilkan prilaku yang mencerminkan perilaku yang mencerminkan bahwa ia menerima dan menghargai individu dan martabat klien sebagai manusia. Kondisi demikian harus memahami dan dirasakan oleh klien untuk mengekspresikan dirinya secara penuh.
c. Kehangatan dan Perhatian
Kehangatan dan perhatian merupakan dua hal yang tidak bias dipisahkan; kehangatan hubungan hanya dapat dicapai jika pembimbing mampu menampilkan perhatian yang tulus terhadap kliennya.
d. Keterbukaan dan Ketulusan
Kondisi ini sangat penting terutama untuk mendorong dan menjadikan klien berani mengungkapkan pikiran. Klien akan terbuka jika pembimbing sudah mampu menunjukkan keterbukaan, kejujuran dan defensive.



6

e. Kekonkritan dan Kekhususan Ekspresi
Hubungan konseling tercipta melalui komunikasi langsung antara konselor dengan klien. Keefektifan tergantung pada ketepatan dan kejelasan komunikasi kedua belah pihak. Hasil penilaian bahwa kualitas kekonkritan dan kekhususan merupakan kondisi yang sangat menentukan keefektifan bantuan (Brammer,1979:12).
C. INTEGRITAS dan STABILITAS KEPRIBADIAN SERTA KONTROL DIRI
1. Pengertian
Kepribadian menggambarkan perilaku , watak, atau pribadi seseorang. Untuk menemukan hakikat dirinya manusia harus berlatih tekun dalam waktu yang lama.
Temperamen, Watak dan Kepribadian
Temperamen adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan emosi (peranan). Watak (karakter, tabiat) adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan nilai-nilai, bukan pembawaan lahir, tetapi diperoleh setelah lahir. Kepribadiaan adalah keseluruhan aspek yang terdapat di dalam diri seseorang termasuk juga didalam temperamen dan watak.
2. faktor yang mempengaruhi kepridian
Pribadi manusia dapat berubah . karena ada usaha mendidik pribadi, membentuk pribadi, membentuk watak.  Sejak dahulu sudah disepakati bahwa pribadi tiap orang tumbuh atas dua  kekuatan, yaitu kekuatan dari dalam dan faktor linkungan.
a. Faktor Pembawaan
Dalam kehidupan keadaan sehari hari sering dapat kita lihat adanya orang yang hidup dengan bakatnya, yang telah dibawa sejak lahir. Jadi pembawaan adalah  suatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, baik bersifat kejiwaan maupun bersifat kebutuhan.
b. Faktor Lingkungan
Aliran empirisme, yang diperopori oleh John Locke dengan teori tabula.

7
c. Teori Convergensi. Yang dipeloperi oleh W. Stern, dengan adanya pertentangan kedua aliran , saling member pengaruh, tergantung pada faktor manakah yang lebih kuat diantara dua faktor tersebut.
3. Kualitas Pribadi Konselor
Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif. Calon konselor dituntut untuk memfasiliotaskan perkembangan pribadi mereka yang berkualitas, yang dapat bertanggung jawab.
            Cavanagh 1982 (dalam Syamsu Yusuf, 2009,37) mengemukakan bahwa kualitas pribadi konselor ditandai dengan beberapa karakteristik yaitu: (a). Pemahaman diori, (b). kompeten, (c). memiliki kesehatan psikologis,(d). dapat percaya, (e). jujur, (f). kuat, (g). hangat, (h). responsive, (i). sabar, (j). sensitive, (k). memiliki kesadaran yang holistik.
4. Karakteristik Konselor
Menurut Munro, dkk (1970) menyatakan bahwa tidak ada pola yang tegas tentang sifat-sifat atau cirri-ciri kepribadian yang harus dimiliki oleh konselor yang efektif, tetati sekurang-kurangnya seorang konselor hendaknya memiliki sifat-sifat luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, mengenal diri sendiri, tidak berpura-pura, menghargai orang lain, tidak mau mengenang sendiri, dan obyektif. Munro, dkk (1979) mengatakan bahwa untuk menunjukkan sifat-sifat kepribadian konselor yang diingin kan dalam diri konselor adalah: (1) konselor sebagai model, (2) hubungan konseling, (3) Keberanian konselor melakukan konseling.
  1. Konselor  sebagai Model
Dalam konseling meniru perbuatan konselor serta mengambil hal-hal yang diyakininya baik untuk menjadi dirinya sendiri. Oleh sebab itu konselor hendaknya selalu menyadari dan menerima dirinya, nilai-nilainya, dan berbagai tingkah lakunya, sehingga penampilannya merupakan model yang mantap dan berguna bagi hubungan dan pemecahan masalah secara efektif.
8
  1. Hubungan Konseling
Konselor tang efektif adalah mereka yang dapat menciptakan hubungan yang bersifat membantu dan tanpa tekanan dengan kliennya, sehingga konselor dank lien itu sama-sama dapat merasakan tentram dan aman untuk saling berhubungan secara bebas dan spontan.
  1. Keberanian Melakukan Konseling
Seorang yang sungguh-sungguh menjadi seorang konselor yang efektif yang harus menerima tanggungjawab dan ketidakpastian serta berani menempatkan dirinya sendiri dalam suasana yang mengandung resiko secara pribadi, resiko menyangkut perasaan, menyangkut hubungan orang lain.
Berdasarkan hasil penelitian tentang hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik konselor meliputi:
1. Sikap.
Hasil penelitian tentang sikap konselor, Shertzet & Stone, (1980) dapat diringkas sebagai berikut:
a.       Penerimaan diri konseling oleh konselor.
b.      Pandangan konselor tentang hakikat manusia.
c.       Gendin melaporkan modifikasi terapi client-clientred.
d.      Termasuk dalam aspek sikap ialah pemahaman realitas.
e.       Sikap emphaty terhadap klien, menghormati klien secara wajar.
f.       Terapis yang berorientasi kepada pribadi klien lebih berhasil daripada yang hanya berorientasi kepada masalah yang dihadapi klien.


9
g.      Barrett melakukan studi, menyimpulkan ada 4 variabel yang mendorong perubahan kepribadian klien yakni: (1) Tingkat pengenalan terhadap klien, (2) Menghargai klien secara  wajar, (3) Tingkat empathy understanding dan (4) Keselalasan terapis.
2. Ras, Jenis Kelamin, dan Umur
Vontres menyatakan bahwa sulit membina hubungan konselor dan konseling bila berlainan ras. Ahli lain menyatakan bahwa konselor wanita lebih asertif, lebih aktif, dan lebih mendorong konseling kearah pemahaman diri.
3. Pengalaman
Kehas dan Moris meneliti konselor yang sebelumnya pernah menjadi guru. Menjadi guru bahwa ternyata menyebabkan ia lebih memahami konseling, namun ia mengalami kesulitan dalam hal peranannya.
4. Keterbukaan
Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa ada hubungan yang erat antara keterbukaan konselor dengan kemampuan konseling membuka diri.
5. Persepsi
Konseling yang berhasil menunjukkan adanya hubungan sosial yang lebih baik, dan ini disebabkan adanya persepsi yang lebih luas dari konselor.
6. Konsep Diri
Konselor yang tergolong baik, mempunyai konsep diri yang baik dengan cirri-ciri antara lain: memahammi dirinya, serius, sabar, bicaranya lunak, sadar akan kepribadiannya, lebih kekeluargaan dan semangat tidak mudah kondor.



10
7. Komunikasi
Komunikasi verbal atau non verbal dapat digunakan tergantung situasinya. Tingkah laku yang dapat menunjang komunikasi adalah hangat, empati, dan keaslian.
D. PENGOLAHAAN STRES DAN FRUSTRASI
a. Pengertian Stres
Setres adalah perasaan tidak enak yang disebabkan oleh persoalan diluar kendali seseorang atau reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan.
b. Latar Belakang Stres
Segala macam bentuk stress pada dasarnya disebabkan olek kurang pengertian manusia akan keterbatasan-keterbatasan sendiri. Penyebab umum stress yang lain adalah beban tugas yang terasa berat, keadaan emosi, dan beban tanggung jawab yang berlebihan.
Penyebab stress bagi siswa disekolah dapat berupa:
1.      Beban mata pelajaran dan tugas yang berlebihan dari kemampuan siswa
2.      Ketidak jelasan peranan dalam proses pembelajaran.
3.      Konflik dalam peranan.
4.      Tidak adanya kelompok pendukung dalam studi.
5.      Harapan orang tua selalu tinggi.
6.      Sifat pribadi seperti: ambisius, pencemasan, pencuriga dan kaku.
c. Hakikat permasalahannya
Masalah penyesuaian atau keadaan stress dapat timbul karena seseorang mengalami antara lain: frustasi, konflik, tekanan, dan krisis.


11

d. Pengelolaan /penanganan
Pendekatan eksistensial humanistik digunakan dalam hal biar seorang klien mengalami stres disebabkan  oleh kurang mengertinya keterbatasan yang dimilikinya dan ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan-keterbatasannya. Sedangkan pendekatan rational emotif dalam hal ini digunakan untuk memperbaiki dan pandangan-pandangan klien yang irasional serta untuk memberikan pemahaman yang rasional kepada klien untuk menghadapi hidup secara logis dan positif.
Bantuan pendekatan agama dapat berupa peningkatan daya tahan atau meringankan beban psikis seseorang, dengan langkah yaitu:
  1. Menyadarkan klien akan garis kehidupan.
  2. Mengenali diri sendiri.
  3. Motivasi yang luhur.
  4. Bersikap sabar dan bersyukur.
  5. Komunikasi intensif dengan Tuhan.
E. BERPIKIR POSITIF TERHADAP ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN
A.    Penalaran Dialektif
           Ekstranilisasi adalan proses pencurahan diri manusia secara terus menerus kedalam dunia melalui aktivitas fisik daan mentalnya. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia sendiri adalah produk kebudayaan. Objektifitas adalah tahap dimana aktifitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yg berada di luar diri manusia.
Jadi melalui ekstrnalisasi manusia menciptakan kebudayaan, sedangkan melalui internalisasi kebudayaan membentuk manusia.


12
B.     Agama dan Keyakinan dalam konseling
            Agama dan konseling merupakan dua hal yg berbeda, demikian penegasan Brammer dan Shostrom (1992). Sedangkan Allport (1950) mengemukakan bahwa keterlibatan agama dalam konseling dan psikoterafi dapat diterima, tetapi harus di ingat bahwa agama tersebut harus mengikuti dan tidak menentang  psikologi, dalam hal ini adalah agama dapat maningkatkan kesehatan mental klien. Dengan demikian keterlibatan agama,nilai, dan keyakinan konselor dalam proses konseling dapat dibenarkan seccara teoritik, teetapi dalam prakteknya harus melihaat etika profesional yg memberi tuntutan cara kerja konselor sekaligus melindungi hak-hak pribadi klien.
C.    Nilai-Nilai Konselor dan Klien
            Dalam konseling selalu ditegaskan bahwa konselor  tidak mempengaruhi pandangan,keyakinan  dan tingah laku kliennya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi dikarenakan konselor berpran sebagai pihak  yg secara personel maupun profesional menyediakan diri untuk sepenuhnya membantu klien tanpa syarat, maka dia juga berkewajiban menerima klien yg menghadapi masalah demikian dengan berusaha membantunya. Aspek nilai dalam konseling adalah hal yg sangat fundamental. Pertentangan antara nilai-nilai yg dianut konselor  dengan yg dianut klien akan menyebabkan konseling tidak dapat dilanjutkan, utamanya konseling yg menyangkut pengambilan keputusan berhubungan dengan nilai-nilai dasar kedua belah pihak.
D.    Perilaku Dan Pribadi Konselor
           Ada sejumlah tingkah laku konselor yg perlu memperoleh perhatian dan ini  berkaitan dengan aspek-aspek nilai klien, seperti : masalah sentuhan dengan klien, dan jenis kelainan.





13

F. MENGHINDARI SIKAP-SIKAP PRANGSANGKA DAN STREREOTIPE TERHADAP KLIEN
A.    Enkulturasi dan Akulturasi
B.     Etik dan Emik
C.     Etnosentris dan Stereoetype

G. MENGELOLA DIRI SECARA EFEKTIF (Membina Pribadi Diri)
A.    Membina pribadi diri
Dr.Fance Dahler, menurut pendapatnya, tanda-tanda kepribadian sehat adalah :
1.      Kepercayaan yg mendalam kepada diri sendiri dan orang lain
2.      Tidak malu-malu dan ragu-ragu, tetapi berani
3.      Inisiatifnya berkenbang dan tidak selalu merasa dirinya bersalah atau berdosa
4.      Tidak menderita rasa harga diri kurang, tetapi mempunyai semangat kerja
5.      Bersikaf jujur terhadap diri sendiri
6.      Mampu berdedikasi
7.      Senang mengadakan kontak dengan sesame
8.      Generalisasi (Sikap kebapak-ibuan)
9.      Integritas

         Beberapa aspek psikis yg dapat dipergunakan untuk membantu pribadi, ataupun meningkatkan kepribadian,yaitu :
a.       Kepercayaan kepada diri sendiri
b.      Sikap optimis
c.       Sikap berhati-hati/ sikap yg tepat atas resiko
d.      Sikap tergantung kepada orang lain
e.       Sikap mementingkan diri sendiri
f.       Ketahanan menghadapi cobaan
g.      Toleransi


14

h.      Ambisi
i.        Kepekaan Sosial
              Oleh karena itu penting bahwa tidak berpura-pura dengan kepercayaan diri sendiri dapat mengembangkan dari dalam kepribadian kita sendiri dan lebih penting lagi untuk tidak mengkonpensasi suatu kelemahan dengan suatu berlebihan tapi harus dapat menerima sebagaimana adanya.
Petunjuk untuk memperbaiki kepercayaan pada diri sendiri :
1.      Cari Sebab-sebabnya
2.      Atasi kelemahan dengan kemauan yg kuat
3.      Kembangkan bakat dan kemampuan lebih jauh
4.      Berbahagia dengan keberhasilan dalam suatu bidang tertentu
5.      Bebaskan diri dari pandangan orang lain
6.      Kembangkan bakat yg lain melalui latihan
7.      Lakukan pkerjaan dengan optimis
8.      Jangan bercita-cita terlalu tinggi
9.      Jangan terlalu sering membandingkan dengan orang lain
10.  Jangan mengambil moto “apapun juga yg dilakukan dengan baik oleh orang lain, saya harus bisa dapat melakukannya dengan sama baiknya”
Petunjuk untuk sikap yg tepat atas resiko, diantaranya :
1.      Jika suka mengambil resiko, tanyalah diri sendiri kenapa tidak berhati-hati
2.      Ingatlah,hati-hati bukanlah penakut
3.      Bila mengemudikan kendaraan dengan cara yg berbahaya dan berani karena tergesa-gesa, katakanlah pada diri sendiri berapa banyak waktu yg akan hilang  jikamendapat kecelakaan
4.      Bertanggung  jawab bukan hanya buat diri sendiri tapi juga terhadap orang laiin
5.      Tingkah laku yg selalu berani mempunyai akibat yg lebih buruk dari tindakan yg hati-hati


15


6.      Berusaha menyesuaikan tingkah laku dengan situasi
7.      Perlu menggunakan akal sehat untuk menimbang tingkah laku yg tepat dalam menghadapi suatu resiko
8.      Kebutuhan akan keamanan lebih lazim ketimbang mencari-cari resiko tidak wajar
9.      Kritislah terhadap diri sendiri
10.  Jaga keseimbangan emosi diri, lebih seimbang emosi maka akan makin seimbang sikap dalam menghadapi resiko.  














16




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar